Di Antara Dua Janji: Sebuah Kisah Tentang Luka, Pilihan, dan Cinta yang Bertumbuh (BAB 1-BAB 3)

Bab 1-Bab 3

BAB 1: Diam-Diam Hancur

Rania mencoba bangkit. Setiap hari ia pergi bekerja, tertawa di hadapan rekan-rekannya, dan mengunggah foto-foto bahagia di media sosial. Tapi malam selalu membongkar apa yang siang coba sembunyikan.

Di balik selimut, di atas kasur yang dingin, ia menangis.

Lagu-lagu galau jadi teman tidur. Dan notifikasi ponsel yang tak kunjung menyala menjadi penyiksaan tersendiri. Ia tahu Arya tidak akan mengirim apa pun, tapi tetap saja, ia menunggu.

Hingga suatu hari, seseorang yang dulu hanya dianggap “teman dari Arya” datang membawa kehangatan yang tak disangka: Dimas.

Dimas bukan pria yang romantis. Ia tidak banyak bicara, tidak mengirim bunga, dan tidak menulis puisi. Tapi ia selalu ada.

Saat Rania sakit, Dimas datang membawa bubur. Saat mobilnya mogok, Dimas yang memperbaiki. Saat Rania hampir gila karena sepi, Dimas duduk di sampingnya, diam-diam menunggu kata pertama keluar.

Dan perlahan, rasa itu tumbuh. Bukan karena Dimas memaksa. Tapi karena kehadirannya membuat Rania merasa... tidak sendirian lagi.

Suatu malam, di kafe kecil tempat biasa mereka bertemu, Dimas berkata lirih:

“Aku tahu kamu belum lupa Arya. Tapi... bisakah kamu beri aku kesempatan untuk mencintaimu?”

Rania menunduk. Hatinya berdebar, bukan karena cinta baru yang datang, tapi karena ia sadar—cinta lamanya mungkin tak pernah kembali.

BAB 2: Cinta yang Tak Diundang

Dimas bukan pria yang penuh kejutan atau drama. Ia adalah tipe pria yang sederhana: duduk diam mendengarkan, mengantar pulang tanpa banyak tanya, dan selalu ada di saat Rania membutuhkannya. Ia tidak membawa janji-janji baru, tapi menawarkan sesuatu yang lebih nyata—kehadiran.

Satu bulan pertama, Rania masih menjaga jarak. Ia takut, bukan karena Dimas jahat, tapi karena ia belum yakin hatinya benar-benar kosong. Namun waktu terus berjalan. Dan seperti tetes air yang perlahan mengikis batu, kehadiran Dimas mulai meluluhkan dingin di hatinya.

Mereka mulai melakukan hal-hal kecil bersama. Makan malam di warung tenda dekat kantor, nonton film di laptop yang layarnya sedikit retak, atau sekadar berjalan kaki menyusuri taman kota sambil membicarakan topik-topik sepele.

Hingga suatu malam, di bawah langit mendung dan angin yang mulai menusuk, Dimas berhenti berjalan dan menatap Rania.

"Kalau suatu hari dia kembali," ucap Dimas pelan, "aku nggak akan marah kalau kamu pergi lagi ke dia. Tapi sampai hari itu tiba... boleh aku jadi orang yang tetap tinggal?"

Rania tak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke arah langit, menahan sesuatu di matanya yang mulai memanas. Kata-kata Dimas bukan permintaan. Ia tidak menuntut apa pun. Dan di sanalah Rania merasa paling dihargai.

Malam itu, untuk pertama kalinya, ia menggenggam tangan Dimas.

Belum dengan cinta penuh. Tapi dengan kepercayaan bahwa hatinya mulai berani membuka diri lagi.

BAB 3: Kembalinya Arya

Matahari belum sepenuhnya terbit saat Rania mendapat telepon dari nomor tak dikenal. Suaranya berat dan asing, namun menyebutkan namanya dengan begitu akrab.

"Ran... ini aku, Arya."

Dunia Rania berhenti sejenak. Ia mengira sedang bermimpi, atau mungkin ini lelucon kejam dari masa lalu yang tak mau pergi. Tapi suara di ujung sana melanjutkan dengan lirih, memohon agar mereka bertemu.

Di sebuah kafe kecil yang dulu menjadi tempat mereka berbagi mimpi, Arya duduk dengan wajah yang berbeda. Lebih kurus, pucat, dan penuh gurat lelah. Tapi matanya tetap sama—mata yang dulu membuat Rania jatuh cinta tanpa ragu.

"Aku mengalami kecelakaan di London. Aku sempat koma selama hampir setahun. Saat sadar, aku... kehilangan ingatan. Baru beberapa bulan terakhir ini aku bisa mengingatmu lagi."

Rania tak berkata apa pun. Lidahnya kelu, dadanya sesak.

"Aku tahu semua ini terdengar gila," lanjut Arya, "tapi aku kembali untuk menepati janji kita. Aku ingin menebus semuanya, Ran."

Rania menatap secangkir kopi di hadapannya. Tangannya bergetar. Hatinya lebih kacau dari sebelumnya.

Bagaimana mungkin seseorang yang sudah ia kubur dalam-dalam, kini kembali membawa janji yang dulu nyaris membunuhnya?

Dan lebih dari itu... bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa hatinya sekarang sudah tak lagi kosong?

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Antara Dua Janji: Sebuah Kisah Tentang Luka, Pilihan, dan Cinta yang Bertumbuh (BAB 4 - BAB 5 )

Di Antara Dua Janji: Sebuah Kisah Tentang Luka, Pilihan, dan Cinta yang Bertumbuh (BAB 6 )