Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Di Antara Dua Janji: Sebuah Kisah Tentang Luka, Pilihan, dan Cinta yang Bertumbuh (BAB 6 )

Gambar
 BAB 6 BAB 6: Surat Tak Terbaca Beberapa hari setelah perpisahan itu, Rania mendapat email dari seorang teman Arya. Isinya adalah surat yang pernah ditulis Arya saat di rumah sakit, tapi tak pernah terkirim karena kondisinya yang kritis. Dalam surat itu, Arya menuliskan semua hal yang ia ingin lakukan bersama Rania jika ia berhasil sembuh. Tentang rumah impian, nama anak-anak mereka, bahkan kebiasaan kecil seperti sarapan di balkon sambil mendengarkan radio lama. Surat itu menghantam hati Rania seperti badai. Tangisnya pecah. Bukan karena menyesal memilih Dimas. Tapi karena ia sadar, cinta sejati kadang tak harus dimiliki selamanya untuk bisa terasa dalam.

Di Antara Dua Janji: Sebuah Kisah Tentang Luka, Pilihan, dan Cinta yang Bertumbuh (BAB 4 - BAB 5 )

Gambar
 Bab 4- Bab 5 BAB 4: Dua Pria, Satu Hati Hari-hari setelah pertemuan itu berjalan lambat dan penuh kebimbangan. Rania merasa seperti terperangkap dalam mimpi buruk yang manis. Arya kembali—pria yang dulu ia cintai mati-matian, yang telah ia tangisi malam demi malam. Tapi kehadiran itu justru membuat semuanya menjadi rumit. Dimas tahu. Ia tahu sejak awal bahwa suatu saat Arya akan kembali. Tapi yang tidak ia sangka adalah rasa sakit yang datang bersamaan dengan kembalinya masa lalu itu. "Kamu masih cinta dia, kan?" tanya Dimas suatu malam. Rania terdiam. Matanya menatap kosong ke luar jendela. "Aku nggak tahu," jawabnya jujur. "Yang aku tahu, kamu menyembuhkan aku... Tapi dia adalah alasan kenapa aku dulu hancur." Dimas mengangguk pelan. Tidak ada amarah, tidak ada paksaan. Hanya kesedihan yang begitu tenang, namun menusuk BAB 5: Keputusan yang Membakar Setelah berminggu-minggu dalam kebingungan, Rania memutuskan untuk bicara dari hati ke hati. Dengan Dima...

Di Antara Dua Janji: Sebuah Kisah Tentang Luka, Pilihan, dan Cinta yang Bertumbuh (BAB 1-BAB 3)

Gambar
Bab 1-Bab 3 BAB 1: Diam-Diam Hancur Rania mencoba bangkit. Setiap hari ia pergi bekerja, tertawa di hadapan rekan-rekannya, dan mengunggah foto-foto bahagia di media sosial. Tapi malam selalu membongkar apa yang siang coba sembunyikan. Di balik selimut, di atas kasur yang dingin, ia menangis. Lagu-lagu galau jadi teman tidur. Dan notifikasi ponsel yang tak kunjung menyala menjadi penyiksaan tersendiri. Ia tahu Arya tidak akan mengirim apa pun, tapi tetap saja, ia menunggu. Hingga suatu hari, seseorang yang dulu hanya dianggap “teman dari Arya” datang membawa kehangatan yang tak disangka: Dimas. Dimas bukan pria yang romantis. Ia tidak banyak bicara, tidak mengirim bunga, dan tidak menulis puisi. Tapi ia selalu ada. Saat Rania sakit, Dimas datang membawa bubur. Saat mobilnya mogok, Dimas yang memperbaiki. Saat Rania hampir gila karena sepi, Dimas duduk di sampingnya, diam-diam menunggu kata pertama keluar. Dan perlahan, rasa itu tumbuh. Bukan karena Dimas memaksa. Tapi karena keh...